Welcome my friend, Please walking through here to visit every room and coming back anytime you like

Basa-Basi Manusia BASI !


Ini hanya sepenggal kisah dari perjalanan hidup manusia. Hanya selembar cerita yang penuh basa-basi sehingga khirnya basi. Dan ini hanya catatan biasa dari seorang perempuan bernama Nury Sybli, yang bukan siapa-siapa.

Mbak W : Setiap pagi, bahkan sebelum alarm berkokok membangunkan, handphone 9300ku sudah berbunyi kriiiiiiiiiiiiiing!! Mbak W membangunkan aku. “nury liputan apa hari ini ?” dengan suara serak aku menjawab “rupsnya perusahaan xxxx di zzzz”. “tengkyuu..kita ketemu disana ya..”jawab mbak W. Percakapan ini bukan hanya terjadi satu kali dalam satu bulan. Hampir setiap hari selama empat tahun. “nury.. kasih tau yaa kalo ada berita bagus..” kalimat ini juga ratusan kali terdengar ditelinga setiap kali memburu berita. Sejak setahun yang lalu, dia tidak lagi menelephone atau mengirimkan pesan singkat atau email sekedar basa-basi menanyakan kabar. Mungkin dia terlalu sibuk dengan dunianya atau karna aku sudah menjadi manusia basi.

Mr.CH : Dia seorang narasumber dari salah satu perusahaan milik negara. Tidak jarang dia memberikan berita eksklusif. Bahkan saking eksklusifnya, kompetitorpun kebakaran jenggot karenanya. Tidak pernah ada kesepakatan untuk hal ini. Semua berjalan dengan sendirinya seiring makin lamanya perkenalan kami sebagai hubungan profesi. Telephone atau pesan singkatpun tidak pernah putus dalam setiap bulannya. Dari urusan pemberitaan sampai bicara perempuan, aku menjadi pendengar setia. Tapi sejak satu tahun lalu, dia tidak lagi menerima telephonku atau sebaliknya. Pesan terakhirnya mengatakan “Gak ada yang kurang dari kamu, kecuali jilbab.” Entah apa maksud dari kalimat ini. Hanya kalimat basa-basi setelah tau keadaanku yang kurang beruntung mungkin.

Mr.HS : “nury, ini kakakmu ya..” tanya seorang keluarga pasien saat melihat Mr.HS berkunjung menemui ayahku (almarhum) saat terbaring sakit. ‘Oh my god’ bahagia sekali andai aku punya kakak seorang direktur utama (gumamku dalam hati..). “Bukan bu, ini narasumber saya,” jawabku sambil salah tingkah (apanya yang mirip tanya gw-red). Banyak hal baik yang ku catat dari perjalanan panjang selama mengenal beliau. Hingga pada satu waktu, tawaran menjadi staf humasnya pun datang. Namun sayang, saat itu aku merasa tidak nyaman dengan team humas ketika itu sehingga tawaran itu aku tolak diam-diam. Tapi hubungan kami tidak berhenti disini. Layaknya konsultan PR ternama, tanpa basa-basi beliau selalu menghubungi aku setiap ada persoalan. Sampai aku merasa bangga menjadi bagian dari orang dia butuhkan. Tapi sudah hampir satu tahun, beliau tidak lagi menerima telephoneku seperti dulu. Atau sebaliknya, menghubungi aku sesuka hatinya tanpa melihat waktu. Basa-basi itu sudah tidak terdengar lagi ditelinga.

Mbak D’ : Wartawan dan humas, kata orang dua profesi ini tidak bisa dipisahkan ibarat suami istri. Harus saling mengisi, saling melengkapi karna satu sama lain saling membutuhkan. Tutur kata si humaspun harus santun apalagi disaat mengharapkan kehadiran wartawan untuk meliput acaranya. “non..dateng yaa..jangan sampe nggak loh..” kata Mbak D’ diujung telepon. “insyaallah ya mbak..aku dateng,” jawabku basa-basi khawatir berhalangan. Bukan hanya soal basa-basi, urusan bantuan yang menyangkut kebutuhan wartawanpun segera dilayani. Apalagi bekerja di sebuah media besar yang patut diperhitungkan. Misscall sekali saja langsung dihubungi ketika ada waktu. Lagi-lagi entah karna hubungan ini hanya hubungan profesi saja, atau memang tidak perlu basa-basi, dia sekarang tidak sesantun dulu. Tidak tedengar lagi basa-basi itu...

Mas B’ : Teman menjadi sahabat, sahabat menjadi saudara, saudara menjadi musuh, atau sebaliknya. Ini biasa terjadi disekitar kita. Hal yang sama juga terjadi antara aku dengan Mas B’, sudah seperti saudara. Setiap hari kami berada diruangan yang sama, tertawa, mencerca, mencari berita, dan lainnya. Bahkan hampir setiap akhir pekan kami sibuk membuat agenda karaoke, bowling atau sekedar mencari tempat menghilangkan penatnya pekerjaan. Bahkan dua tahun terakhir kami menghabiskan malam akhir tahun bersama-sama dengan teman-teman wartawan. Tapi kini tidak terjadi lagi. Dia tidak pernah lagi basa-basi sekedar menanyakan keadaan atau kegiatanku. Tidak ada lagi cerita yang kita buat, tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi caci maki.. monyet betina!! hahahahaa..dia sering memanggilku dengan sebutan itu. Basa-basi itu kini sudah basi..

Si fahmi : Dari awal melihat tampanganya aku sangat ragu untuk menjadi temannya. Tapi juga terlalu lucu untuk tidak tertawa setiap kali dia mencerca teman-teman di press room. Hemmm... .ok lah, aku bersedia berjabat tangan untuk saling mengenalkan diri. Dan tanpa basa-basi, hari itu kami nonton bioskop rame-rame. Hari berganti hari banyak cerita indah yang kita lewatkan bersama, memburu berita, karaoke, makan bareng, nonton bareng, atau bahkan sekedar menghabiskan hari dirumahku sambi menunggu istrinya pulang kerja. Sampai akhirnya keraguan itu pupus. Tapi kemudian aku berubah pikiran saat dia menentangku untuk melawat (atas nama organisasi-red) sahabat kami Santi (almarhum) meninggal dunia. Hanya dia satu-satunya yang menentang tanpa alasan. Hal serupa juga dia lakukan saat aku berada di titik nol. Dia menantang organisasi memberi bantuan. Lebih dari itu, dia orang pertama yang mengirimkan pesan singkat “sorry jangan libatkan gw dalam masalah lo,” justru disaat aku butuh dukungan seorang sahabat. Untuk banyak hal, dia termasuk orang tidak suka basa-basi. Tapi dalam pertemuan terakhir, dia justeru basa-basi menanyakan kabarku “kemana aja lo.” Sungguh sangat basi, karna dia manusia yang paling rajin berkunjung kerumahku sebelumnya. Kini nama dia sudah ku masukan ke tong sampah. Karna aku tidak mau lagi mendengar basa-basinya yang sudah basi.

Yogi : Duuuhhh.. dia satu-satunya sahabatku yang selalu ada di hati. Dia selalu bersedia menjadi pendengar, bahkan kadang menjadi penasihat bak seorang ustadz ternama. Dia termasuk orang yang tidak pernah basa-basi dalam catatanku. Misalnya, dia selalu mengaku tidak punya uang setiap kali aku membutuhkan. “Duh, gw lagi gak ada”, ujarnya tanpa basa-basi akan berusaha membantu. Begitu juga sebaliknya, dia juga tidak pernah basa-basi untuk terus, terus dan terus meminta bantuan. “lo ada duit gak? Transferin dulu dong, dua minggu gw ganti.” Dasarnya aku tak pandai basa-basi, hampir tidak pernah ku tolak. Kadang lo ngebetein gi..! hihihi.. .

si Achmad: Pria yang satu ini cukup menggairahkan. Selain bodynya yang sexy, tampilannya pun menawan layaknya fotografer terkenal. Namanya pun terpampang dimana-mana karna hasil karya fotonya. Dalam seminggu dia tidak pernah absen untuk ketawa-ketiwi sekedar cerita atau bercinta, hemmm cerita yanga sangat manis! Perjalanan yang sangat melelahkan dan terlalu panjang untuk diceritakan. Setahun yang lalu, dia menghilang tanpa alasan apapun dan basa-basi..justru disaat dunia semakin tidak bersahabat. “dari mana lo” tanya dia basa-basi setiap ketemu belakangan ini. Yah, Cuma pertanyaan basa-basi.


Sekali lagi, ini hanya sedikit catatan dari perjalanan hidupku. Semoga kita tidak menjadi manusia basi yang penuh basa-basi.


Nury Sybli

Photobucket