“Orangtua saya tentara yang pindah dari satu kota ke kota lain. Ayah saya tukang kawin. Ayah saya pecandu alkohol. Ibu saya bercerai ketika saya berusia dua tahun..” itulah kisah dari hampir setiap orang dalam bentuk yang sedikit berbeda.
Satu tahun silam saya bertemu dengan seorang pria dari kota yang berbeda. Suatu pertemuan yang mengagumkan. Ikatan emosi kami sangat kuat meski ketika itu belum bertemu secara fisik. Daru namanya. Seorang fotografer salah satu surat kabar.
Tuturnya lembut, katanya santun, parasnya angkuh, rambutnya ikal, matanya tajam, sungguh mempesona. Tidak sedikit perempuan yang kepincut dengan penampilannya. Tidak peduli apakah dia beristri, apakah dia memiliki buah hati atau tidak. Saya, salah seorang yang jatuh hati padanya. Menerima segala kekurangannya. Menjalani sebuah hubungan yang sangat ikhlas bersamanya.. .
Meski jarak memisahkan, teknologi mampu mempertemukan kami setiap saat. Dan hampir setiap dua bulan kami bertemu di Kota dimana dia tinggal. Satu kota yang selalu membuatku ingin kembali.
Saya bukan orang pertama dan satu-satunya perempuan yang menjalani hubungan ‘terlarang’ bersama Daru. Setiap hari, ada 10 wanita bahkan lebih yang mengirim pesan singkat mengaku “rindu”. Setiap hari, ada 7 wanita bahkan lebih yang menelepon meminta bertemu. Dan setiap hari juga Daru mencari, dan terus mencari saya melalui telepon seluler.
Pesonanya sungguh meluluhkan hati, meruntuhkan jiwa yang paling nadir. Rasakupun semakin hari semakin melebur. ‘Ingin rasanya hidup bersamanya, selamanya..’ Betapa tidak? Kata-kata manis dengan tutur yang lembut setiap hari saya dengar dari bibirnya, emosi yang menyala setiap hari saya dengar dari mulutnya, birahi yang membara juga setiap hari saya dengar di telinga.
Hari-hari yang indah sekaligus melelahkan..
Lea, wanita yang memberinya dua putri cantik tiba-tiba saja menghentakkan raga. Amarahnya tak terbendung lagi. Tapi bukan saya pemicunya. Gambar-gambar dramatis beberapa tahun silam menghujani kesejukan rumahnya. Gambar yang dibuat Daru beberapa tahun silam bersama wanita modelnya merobek sebuah kepercayaan seorang wanita.
Kini, kepercayaan itu kian terkikis terbawa ombak.. .
Daru, saya menangis karnamu..
Saya membiru karnamu.. .
Saya tidak mengenalmu lagi.. .
Kalimat ini yang ingin saya bisikan ditelingamu saat ini. Yah, saya hampir tak mengenalnya lagi. Daru berubah tidak seperti yang saya kenal. Dia pergi tanpa kata. Yang tertinggal hanya cacian dan makian.
Cerita dan mimpi indah itu dia hapus tanpa jejak melukai raga. Pepatah yang menyebutkan ‘habis manis sepah dibuang’ sungguh menusuk sanubari. Ini yang saya alami saat ini.
Sejatinya bukan hanya saya yang mengalami kejadian ini. Ada banyak wanita yang diperlakukan hampir sama oleh Daru. Dia tinggalkan kapan dia mau. Dia datangi kapan dia butuhkan..
Daru.. .
Pertanyaannya adalah apa yang akan kamu lakukan sekarang?
Karna alasan traumatik masa lalu kamu mendendam? Maaf, saya bukan masa lalumu..
Anakmu perempuan, yang akan dewasa sepertiku.. .
“Jika kamu mendendam atau menyalahkan saya atau seseorang karna masa lalu, sesungguhnya kamu telah melukai diri sendiri. Karna bila kita berfikir tentang kesulitan masa lalu, karna hanya akan mendatangkan lebih banyak lagi kesulitan yang sekarang kamu alami. Ingat, anakmu juga perempuan.”
Seseorang yang mempertahankan pikirannya pada sisi gelap kehidupan, sesungguhnya itu adalah doa untuk kemalangan hidupnya yang akan datang. Karna sejatinya kita bisa merancang takdir hidup kita yang akan datang. Hanya kita yang bisa menciptakan kehidupan yang pantas.
Mulailah berfikir yang positif. .
Tidak saling menyakiti satu sama lain..
Salam’
Nury Sybli
*Tokoh saya, adalah salah seorang penulis yang juga menekuni fotografi. Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata seseorang*
