Tanpa ragu, Cessia terus memeluk erat sesekali menciumi wajah khas Been yang kata orang mirip pria India. Kulitnya hitam, hidungnya mancung, bibirnya tipis, rambutnya ikal panjang. Yah, Been yang sangat laki-laki. Perbincangan tentang orang-orang sekitar, pertemuan pertama mereka, asik menjadi topik pagi hari. Keduanya pun larut dalam tawa di atas ranjang sempit anak kos.
Tak ayal, cumbu dan tawa menghiasi pagi itu. Kecupan di bibir terus merambat pelan ke bagian lembah jiwa yang paling tubir. “Ooohh, Been..” geram Cessia sambil menjenggut rambut gondrong Been. Tangan kuat Been kian mencengkram tanpa peduli. Darah Cessia pun terasa mengalir deras menghangatkan tubuh menikmati per’cintaan’ satu pagi. Ya, satu pagi yang tak pernah diimpikan..
Wajah kaku Been tampak manja pagi itu. Dia tersenyum tipis melihat wajah Cessia yang merona menantang matahari. Rasa kantuk yang menggelayut pun sirna dalam pelukan. “Ini pertama kalinya aku lakukan,” tiba-tiba Been mengejutkan. “Aku harap, kamu tidak pergi,” pinta Been pada Cessia.
Dalam senyum yang tenang, Cessia menjawab lirih, “kita buktikan nanti.” Meski dalam benaknya masih tidak paham dengan apa yang dipinta Been. Dia pun tak peduli apa yang mendasari pertanyaan pria yang pantas menjadi kakaknya itu. Tanpa ragu, Been menuturkan kejadian yang dia alami. Pernah ditinggal seorang perempuan karna ‘percintaan’ yang tidak memuaskan. Sejak itu dan karna itu juga, Been kapok dan sangat hati-hati untuk kembali ‘bercinta’ selain dengan istrinya..
Cessia seakan tak memperdulikan cerita Been. Dia terus saja menciumi tubuh Been yang khas. Pelukan Cessia pun kian erat tak ingin dipisahkan. Hari itu Been harus kembali ke kotanya, dua jam dari Jakarta. Kota yang membesarkannya menjadi seorang tukang foto ternama.
“Jangan kangen aku ya,” bisik Cessia ditelinga Been tiba-tiba. Been pun terkejut. Dia tampak tak ingin pengalaman buruknya kembali terjadi, ditinggal teman perempuannya. “Kenapa? “ tanya Been. Cessia hanya tertawa nakal.. . menggoda Been yang serius.
Uuuuugghht..! Jam dinding kian tak bersahabat. Jarum jam menunjukan pukul 10.00 WIB. Been pun bergegas mandi bersiap diri mengejar waktu yang tersisa. Berbalut kemeja putih, Cessia mengantar Been ke Bandara usai mencari beberapa barang yang ia perlukan.
Setengah jam menjelang maghrib, Been memasuki ruang boarding. Cessia pun pamit pulang mencium tangan Been. Maklum, Been tidak akrab dengan cipika-cipiki. Wajah Been terlihat kaku saat Cessia meminta menciumnya di depan umum.. .’aaaahh nakalnya aku’ gumam Cessia dalam hati.
“Hati-hati ya,” pesan terakhir Been.
“Tau tidak tidak Been, aku bahagia satu malam bersamamu. Foto-foto yang kamu buat akan ku simpan rapih. Dan pagi yang sangat indah itu.. biarlah menjadi cerita kita berdua,” ungkap Cessia dalam hati saat meninggalkan Been.
Cessia dan Been bertemu empat tahun silam di kantor mereka. Dan kali itu pertemuan pertama dan terakhir sebelum pagi itu. Bahkan keduanya sulit mengingat kembali kapan persisnya mereka bertemu.. .
Kali ini, foto cantik Cessia yang akan merekam pertemuan indah itu..
'terimakasih Been,.. atas foto yang kamu buatkan'
salam’
nury sybli
*Cessia & Been sesungguhnya tidak 'make love' pagi itu..*
