Tubuhnya yang kian renta tidak bersemangat meski lebaran sudah didepan mata. Rona kesedihan terpancar dari matanya yang sayu. “Lebaran kali ini tidak ada kue sagon, ketupat dan opor ayam,” gumamnya.
Tahun ini mama tidak membuat kue lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Mama tidak lagi memasak untuk anak-anaknya. Mama tidak lagi menyiapkan makanan kesukaan ayah. “Ya, ma..karna lebaran tahun ini juga akan sepi seperti tahun lalu,” jawab anak bungsunya.
Anak-anak ayah hanya pulang sebentar lalu pergi lagi ke rumah mertuanya. Tamu-tamu ayah tidak sebanyak dulu. Keluarga besar ayah juga kian sibuk dan semakin jauh.
Tapi kerinduan mama akan rumah ayah sangat dalam. Bukan karna dia ingin tidur di bantalnya yang keras atau kasurnya yang berjamur. Tapi dia rindu anak-anaknya yang sudah meninggalkan rumah. Rumah tua peninggalan ayah..
“Ma, aku pasti pulang. Melihat wajahmu yang keriput dan tidur di kamarku yang selalu kosong..” kata anak bungsunya. “Aku juga ingin melihat makam ayah,” kataku beberapa waktu lalu. Bibir mama pun mengembang tersenyum bahagia mendengar anaknya akan pulang.
Lebaran tahun ini adalah lebaran kedua tanpa ayah..
Lebaran tahun ini akan sama sepinya seperti tahun lalu.. .
Bahkan lebih sepi dibandingkan saat aku kecil.. .
Tapi aku tetap pulang ke rumah tua ayah..!!
Sahabat, “Bila ‘IBU’ masih hidup jangan sia-siakan untuk membuat hatinya tersenyum dan gembira. Bila ayah telah tiada jangan putuskan tali silaturahim yang telah dirintisnya, dan do’akan agar TUHAN selalu menjaganya dengan sebaik-baiknya.”
Salam’
Nury Sybli
www.sybli.com
*Sejak sakit, mama tinggal bersama anak perempuannya yang ke-lima*
